Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Tulisan ini Judul aslinya adalah :

The Mosques Programs In West Sumatra

Might Be Improved

As The Community Learning Centres

By

Prof.DR.H. Aliasar, M.Ed.

A.  DASAR PEMIKIRAN  DAN LATAR BELAKANG

Sebuah komunitas adalah sekelompok orang yang hidup bersama di daerah geografical tertentu dan disatukan oleh kepentingan bersama, keyakinan agama,nilai-nilai, norma, sumber daya untuk memenuhi hidup mereka Rencana pembangunan nasional harus mencakup program program masyarakat pembangunan.  Setiap  masyarakat memiliki karakteristik khusus dan kondisi sepertiwarisan  sosial, nilai-nilai dan norma-norma, kepercayaan, sumber daya,  dan kondisi yang ada dari karakteristik   dan sumber daya. Siapa ingin membantu masyarakat untuk mencapai  kehidupan yang lebih baik dari orang-orang, harus tahukarakteristik tersebut. Dia atau dia harus menyesuaikan program-program pengembangan masyarakat dengan kondisi  yang ada dari karakteristik. Kelompok  etnis Minangkabau adalah kehidupan suku asli di Provinsi Sumatera Barat, dan amost semua orang Muslim. Orang-orang yang sangat percaya dengan ajaran  agama mereka. Secara umum, di setiap desa Sumatera Barat  memiliki setidaknya  ”rumah suci” atau masjid. Fungsi masjid di Sumatera Barat tidak hanya bisa digunakan  sebagai tempat untuk menyembah Tuhan atau Allah, tetapi memiliki berbagai tujuan.

Menurut doktrin Islam, ada dua prinsip utama menggunakan masjid. Pertama, untuk mengembangkan dan membangun hubungan dengan Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Kedua, untuk mengembangkan dan membangun hubungan  antara manusia, dan. ekosistem di antara ciptaan Allah, (Al-Quran ayat112). Saat    ini, diperkirakan sekitar 5000 masjid di Sumatera Barat.  (The Estimasiberdasarkan  Sumatera Barat Dalam Angka 1990). Rata-rata, dapat dikatakanbahwa di setiap desa  Sumatera Barat selalu ada setidaknya satu masjid, di manaorang-orang untuk bersama-sama minimal sekali dalam seminggu pada hari Jumat.Sebenarnya dalam beberapa  masjid, umat Islam adalah untuk bersama-sama limawaktu dalam sehari. Selain untuk  beribadah kepada Allah, orang-orang Muslim juga menggunakan kesempatan untuk berbagi ide, sumber daya, untuk memecahkan masalah kehidupan mereka seperti ekonomi, sosial, dan urusan pendidikan dan masalah, dan sebagainya. Sebuah masjid Beberapa telah dipelihara dengan fasilitas perpustakaan yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan anggota komunitas tersebut. Juga tidak begitu sulit untuk mencari tahu sumber daya manusia dari dalam atau di luar komunitas-komunitas yang mungkin bisa membantu sebagai nara sumber dalam program pendidikan masyarakat. Masalah utama adalah bagaimana meningkatkan program masjid menjadi pusat belajar masyarakat.

 B. SIFAT DAN KEBERADAAN MASJID  DI MASYARAKAT

Istilah “masjid”  berasal dari bahasa Arab. “Adalah akar kata dari” sajada” atau “sujud “. Istilah ini berarti tempat di mana Islam (s) membungkuk dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah) dari alam semesta. Menurut ajaran Islam setiap muslim yang diperlukan untuk mendapatkan bersama dalam menyembah Tuhan. Akibatnya ibadah yang sempurna harus dilakukan bersama-sama (dalam kelompok), meskipun dalam kondisi tertentu ibadah dapat dilakukan secara individual. Ini berarti setiap muslim yang mendesak untuk kekuatan persaudaraan muslim melalui kegiatan masjid. Ini adalah tugas seorang Muslim untuk mendirikan masjid prcgram mana pun dia tinggal.

Muhammad, p.b.u.h. sebagai nabi Islam telah demostrated untuk folowers untuk membangun masjid dan itu program sebagai pusat komunitas belajar. Orang Muslim dan beberapa orang Kristen percaya bahwa rumah suci tertua “didirikan oleh nabi Ibrahim, SAW Saat ini tempat yang bernama “Mesjidil Harram, di mana” Ka’batullah yang ada di pusat dari Lalu “di Masjidil Harram.” Muhammad, SAWmasih kecil, Ka’bah direnovasi oleh “kelompok etnis Quresy ‘dan pada saat “Hajarul Aswad” itu dipindahkan ke tempat tertentu. Untuk menempatkan kembali “hajarul Aswad” ke posisi mantan, orang-orang dari kelompok “Quresy” etnis tidak menyenangkan tentang yang “sub kelompok etnis Quresy memiliki hak untuk menempatkan kembali” Aswad hajaraul “Para” orang Quresy berada dalam konflik serius. oleh waktu.

Sejak kanak-kanak, Muhammad, p.b.u.h. dikenal sebagai seorang pria yang jujur. Sehingga, orang-orang Quresy datang kepada Muhammad, SAW untuk memecahkan masalah atau untuk keluar dari konflik. Dia meminta sepotong pakaian atau (“selembar sorban “) dan dia menempatkan “Hajarul Aswad” di atasnya. Setiap pemimpin dari “sub-kelompok etnis Quresy ‘harus menjaga bahwa garmen (” sorban “), dan mereka kerjasama  meletakkan kembali ” Hajarul Aswad “ke posisi semula. Dengan kata lain, Muhammad, p.b.u.h. telah menunjukkan untuk mengubah konflik menjadi kerjasama melalui kegiatan masjid, meskipun waktu itu ia masih muda, (Haekal, 1984, h. 79).

Setelah Muhammad, p.b.u.h. ditunjuk oleh Allah sebagai Rasul,. Ia melanjutkan mengajar orang dengan ajaran Islam melalui kegiatan belajar masyarakat. Dia mendorong orang-orang “Quresy” untuk melaksanakan ajaran Islam, walaupun pada awal banyak orang menolaknya. Ia membawa manusia dari  system perbudakan untuk kebebasan diri orang lain dan ditawarkan kepadanya kalifah Allah, Penguasa dan Pencipta alam semesta (Al Qur’an, Albaqarah ayat 30). Dia menunjukkan status real time seseorang di alam semesta, dan menawarkan kontrol sumber daya aktual dan potensial bumi dan langit (Al Qur’an, Lukman ayat 20).

 Meskipun ia  tidak mampu membangun masjid di awal kerasulannya, ia menggunakan lagi tempat-tempat seperti rumah istrinya Khadijah, rumah Arqam sebagai masjid untuk membimbing dan mengajar pengikutnya. Banyak orang Quresy menentang ajaran Islam, tapi dia (Muhammad, SAW) tidak mendapatkan frustrasi. Karena ajaran Islam menentang tradisi Quresy, sebagian besar orang Quresy menolaknya, dan beberapa dari mereka mengatakan bahwa Nuhammad, adalah orang gila, sehingga ia terpaksa pindah ke Madinah. Madinah terletak di Utara dan sekitar 400 km dari Mekkah. Sebelum memasuki Medinah Muhammad, p.b.u.h. dan para pengikutnya membentuk Masjid Mesjid itu bernama Quba dari sekitar 11 km dari Madinah. Masjid ini digunakan oleh Muhammad, p.b.u.h. sebagai base-camp pusat belajar masyarakat. Hubungan harmonis antara migrasi dari Mekah (“Muhajirin ‘) dan orang-orang di Madinah (“Anshar”) diajarkan melalui program masjid. Dengan kata lain, Muhammad, p.b.u.h. sebagai Nabi Islam telah mengajarkan umat manusia tentang sifat dan keberadaan Masjid dalam masyarakat Islam

 C. PUSAT BELAJAR MASYARAKAT

Sosialisasi dan untuk hidup bersama adalah karakteristik dari sifat manusia. Orang dapat mengembangkan potensi-potensi mereka jika mereka hidup dalam kelompok (masyarakat). Setiap anggota masyarakat harus berbagi ide nya, sumber daya, dan tanggung jawab untuk mengembangkan masyarakat di mana dia hidup dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik.

1. Pendidikan Masyarakat.

Kondisi hidup masyarakat   adalah refleksi dari pendidikan anggota masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan anggota masyarakat harus ditingkatkan. Sebelum meningkatkan pendidikan masyarakat, penting untuk menjelaskan konsep pendidikan masyarakat. Pendidikan masyarakat adalah program pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap moral dan nilai-nilai, dan keterampilan para anggota masyarakat. Hal ini penting untuk mengetahui bahwa pendidikan masyarakat tidak hanya jumlah sekolah untuk generasi muda di masyarakat, tetapi lebih dari itu.   Pendidikan masyarakat mengacu pada semua program belajar dari rakyat, oleh rakyat dan untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik orang-orang dalam komunitas tertentu. Biasanya program-program belajar yang berasal dari dalam, keluar atau samping yang dilengkapi oleh sumber daya di masyarakat.

2.  Sejarah Singkat Tentang Pusat Belajar Melalui Program Masjid

Sebelum Pemerintah Belanda, orang-orang Minangkabau sudah tahu ide dasar dari pusat komunitas pembelajaran. Mereka telah diketahui dari doktrin Islam. Para Muslim diminta untuk bersama-sama di masjid   satu kali dalam seminggu pada hari Jumat. Di beberapa komunitas program masjid itu tidak hanya untuk ritual atau kehidupan spritualnya, tetapi juga termasuk, ekonomi sosial, dan pengembangan kegiatan hidup  sehari-hari seperti pendidikan rakyat bagi kaum muda dan tua.

Ketika Belanda menduduki Sumatera Barat, pemerintah mereka memperkenalkan Pendidikan Barat melalui sekolah formal. Pemerintah Belanda tidak peduli dengan pendidikan masyarakat di Masjid. Kadang-kadang pemerintah Belanda diduga kegiatan masjid, karena mereka sepertinya oposisi untuk orang Belanda, Pemerintah kolonial berusaha untuk mengisolasi doktrin Islam dan kegiatan masjid dari. kepentingan rakyat. Orang Belanda memotivasi kelas sosial elit, dll mendidik anak-anak mereka dengan sekolah-sekolah Barat, tetapi orang-orang dari kelas bawah tidak dapat pergi ke sekolah. Orang-orang dari kelas bawah mendidik anak-anak mereka hanya melalui masjid atau belajar masyarakat tradisional terpusat.Akhirnya, kegiatan masjid  terkebelakang dari sekolah Barat. Tidak ada perbaikan dalam pendidikan masyarakat oleh masjid. Ini gambaran kepada masyarakat, khususnya kelas sosial Barat berpendidikan dan tinggi, pendidikan yang dari masjid hanya untuk kelas agama dan bawah. Itu adalah gambar orang-orang berpendidikan paling barat untuk pendidikan melalui masjid, tetapi sifat pendidikan masyarakat dengan masjid tidak seperti itu. Masyarakat Indonesia termasuk kelompok etnis Minangkabau menyadari betapa buruk sistem kolonial dengan kehidupan sosial dan pendidikan bangsa kita. Republik Indonesia di Nusantara semua “menjadi kesatuan dalam keragaman” mencoba untuk melakukan perang kemerdekaan untuk menentang kolonialisme di tanah air mereka. Dalam saat ini Indonesia telah puas pada akhir pelaksanaan kelima Rencana Pembangunan Lima Tahun, dan bekerja keras dengan pembangunan berkelanjutan mereka untuk masa depan. Sistem pemerintah kolonial Barat sudah pergi dari kepulauan Indonesia, dan orang-orang dapat kembali ke warisan sosial mereka, dan nilai-nilai yang mereka pandang sebagai dasar pendidikan mereka.Kelompok etnis Minangkabau hidup di Sumatera Barat dapat meningkatkan pendidikan masyarakat mereka dengan menggunakan Masjid sebagai markas pusat pembelajaran. Jaman sekarang ini, berdasarkan Sensus penduduk itu adalah estrnated sekitar 4. 240. 000 orang dan 5. 000 masjid (tidak termasuk mushalla, dan “Langgar”) di Sumatra Barat.

 3. Hubungan Antara “Pancasila” (Lima Prinsip Sebegai Dasar ) dan Pendidikan  Masyarakat oleh Masjid.

 Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, Pancasila adalah filosofi kehidupan bangsa, dan juga yayasan pendidikan. Sistem pendidikan. diatur oleh Undang-Undang Nomor 2 Pendidikan, dan Tahun 1989. Menurut Undang-undang ini pendidikan diimplementasikan dalam dua baris. Pertama, adalah melalui pendidikan formal; dan kedua, dengan   pendidikan luar sek0lah ( PLS) seperti sekolah di rumah, di masyarakat, wilayah kerja, di masjid-masjid, dan sebagainya. Bahasa Indonesia telah menyadari betapa pentingnya  Pendidikan luar sekolah (PLS) dan program pendidikan berkelanjutan. Pengembangan dan peningkatan program-program sekolah harus sejajar dengan keluar dari program sekolah. Program pendidikan ini tidak hanya berurusan dengan hidup di dunia tetapi juga untuk kehidupan masa depan di sini setelah. Akibatnya, pendidikan moral dan spiritual sama pentingnya dengan teknologi modern dan pendidikan untuk pembangunan bangsa.

Sebelumnya, atau sebelum deklarasi kemerdekaan, Indonesia, terutama orang Minangkabau telah membentuk sisi keluar dari program pendidikan atau pendidikan masyarakat oleh masjid. Pemerintah Belanda tidak mau mendukung program-program. Sekarang adalah waktu terutama bagi umat Islam untuk kembali ke warisan sosial mereka dan menggunakan pendidikan masyarakat dengan masjid. Program masjid harus disertakan inovasi dan teknologi selain pendidikan moral dan ritual. Program masjid bisa diperbaiki sebagai pusat komunitas belajar.

 D. SUMBER DAYA MANUSIA DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM UNTUK POGRANS PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

  Masjid menurut Megatrends 2000 yang ditulis oleh Naisbitt, dan Aburdene, kehidupan spritualnya dan agama akan sangat influnce dengan kondisi orang yang hidup di abad ke-21. Dalam buku itu juga menjelaskan pembangunan negara-negara Pasific. Orang Minangkabau hampir semua Moslems, mereka harus belajar dari prediksi buku Megatrends. Mereka harus tahu bagaimana untuk mengidentifikasi sumber daya alam dan menggunakannya untuk pengembangan sumberdaya manusia.

 Secara umum, kondisi sosial ekonomi orang dari Minangkabau berada di atas rata-rata orang-orang dari provinsi lain di Indosia. Industri garmen, kerajinan tangan, dan manajemen restoran, dan juga potensi pariwisata yang dapat dikembangkan melalui program masjid. Salah satu tradisi baik dari etnis Minangkabau. adalah “merantau” (migrasi ke Provinsi lain di Indonesia atau ke negara-negara ASEAN), tapi mereka masih bertanggung jawab untuk pengembangan komunitas mereka meskipun mereka jauh dari tanah airnya (Sumatera Barat). Mereka juga percaya dengan doktrin Islam sebagai Muslim. Masalah utama adalah bagaimana menggabungkan kebutuhan masyarakat dan program pendidikan masyarakat melalui Masjid. Masalah ini dapat diselesaikan dengan memperkenalkan teknologi ke dalam program Masjid, dan bekerja sama dengan orang-orang dari universitas atau pendidikan tinggi. Program Masjid harus direnovasi dengan kombinasi kegiatan untuk kehidupan di dunia, dan kehidupan spritualnya moral  di sini sekarang juga. Kehidupan di dunia adalah sarana untuk di sini setelah. Sumber daya manusia harus dikaitkan dengan  sumberdaya alam dengan teknologi untuk meningkatkan pendidikan masyarakat melalui program masjid.Pembangunan berkelanjutan harus diperkenalkan ke dalam program Masjid. KIS (koordinasi, integrasi, dan penyederhanaan) harus diterapkan dalam membangun program komunitas pendidikan oleh masjid.

 E. REFERENSI (PUSTAKA)

A. Yusuf Ali, 1983, Al-Qur’an: Terjemahan dan Komentar, Diterbitkan oleh Amana Corp Brentwood, Maryland, Amerika Serikat.

Muhammad Husain Haekal, 1984, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Tintamas Jakarta.

Naisbitt John, dan Aburdene Patricia, 1990, Sepuluh Arah Baru Tahun 1990 UNTUK – sebuah, Megatrends 2000, Binarupa Aksara, Jakarta.

 … … .. Undan Undang Tentang SISTEM Pendidikan Nasional No.2 Tahun 1989, Sinar Grafika Jakarta.

 … .. 1990, Sumatera Barat dalam Angka, Bappeda & Kantor Statistik Sumatera Barat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernah mendengar kata “homeschooling”? Pola pendidikan ini semakin hari semakin banyak dipilih oleh para orangtua.Homeschooling yang berarti sekolah rumah, dikenal juga dengan istilah sekolah mandiri atau home educationhome based learning. Pengertianhomeschooling secara umum adalah model pendidikan alternatif, atau proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur, dan terarah yang dilakukan orangtua, keluarga, dan lingkungan yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan dan proses pembelajarannya. Sehingga, anak dapat mengembangkan potensi sesuai dengan kemampuannya.

Nah, ketika akan menerapkan homeschooling, ada baiknya orangtua mempelajari tips di bawah ini: 1. Ketahui undang-undang tentang homeschooling di negara Anda Setiap negara memiliki undang-undang tersendiri dalam menyelenggarakan homeschooling. Sudah sepatutnya anda mempelajari undang-undang di Indonesia tentang homeschooling sebelum melaksanakan dan menerapkannya bagi anak Anda. 2. Pastikan Anda memiliki waktu untuk menemani si buah hati Sebenarnyahomeschooling tidaklah terlalu sulit. Namun, Anda harus menyiapkan waktu lebih buat buah hati Anda.

3. Ketahui pilihan Anda Ada banyak pilihan yang tersedia untuk program homeschooling. Pilihan yang bisa Anda temukan seperti membuat sendiri kurikulum anak Anda, bergabung dengan kelompok pendukung homeschooling di sekitar daerah Anda, atau biarkan anak Anda sendiri memilih mengikuti kelas-kelas umum secara online4. Pastikan Anda sudah siap Anda harus mempersiapkan banyak hal sebelum melakukan homeschooling. Beberapa hal yang benar-benar sulit adalah, orang-orang yang tidak paham dengan metode homeschooling. Hal ini membuat Anda harus memberikan pemahaman kepada mereka mengenai pilihan Anda untuk homeschooling.

5. Anda harus menyimpan beberapa catatan anak Anda Pahamilah bahwa homeschooling tidak sama dengan sekolah reguler. Anda harus menyimpan sendiri catatan nilai anak anda. Misalnya, absensi hadir, contoh karya anak Anda yang paling baik, nilai-nilai tes, dan juga salinan dari kurikulum yang diikuti anak Anda.   Di beberapa kasus di negara lain seperti AS, ada beberapa petugas yang  memasuki rumah Anda dan memeriksa kegiatan homeschooling di rumah Anda.  Mereka ingin mengetahui sejauh mana pemahaman Anda mengenai homeschooling, apakah Anda mengerti tentang homeschooling.

Oleh karena itu, jika Anda ingin menerapkan metode homeschooling, harus mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan itu!

JAKARTA, KOMPAS.com - Homeschooling alias sekolah rumah kini menjadi salah satu alternatif pilihan bagi para orangtua untuk pendidikan anaknya. Mereka tak menempatkan si anak di sekolah formal pada umumnya. Apakah mereka tidak takut kualitas pengetahuan yang diperoleh anak akan lebih rendah dibandingkan jika menyekolahkannya di sekolah formal? Tidak juga. Anak hasil homeschooling bukan berarti rendah secara kualitas.

Nah, berikut ini ada beberapa catatan soal nilai positif homeschooling yang dirangkum Kompas.comdari berbagai sumber. Siapa tahu, bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum memutuskan “menyekolahkan” anak Anda di rumah.

1. Perkembangan anak lebih pesat
Jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah formal pada umumnya, homeschooling sesungguhnya merupakan program yang dapat membantu dalam perkembangan anak. Setiap anak memiliki tingkat penerimaan pengetahuan yang berbeda-beda. Namun, sekolah formal lebih cenderung untuk menyamakan semua kemampuan anak. Maka, tak jarang anak yang dengan daya tangkap lebih rendah harus berusaha keras dalam untuk mengejar ketinggalan dibanding teman-temannya yang lain. Nah, dengan homeschooling ini sang anak dapat belajar langsung dengan guru privat dan sesuatu yang menjadi ketidaktahuan anak akan dengan mudah diidentifikasi oleh guru karena berkomunikasi langsung.

2. Memiliki karakter yang lebih kuat
Anak dengan didikan langsung oleh orangtua akan memiliki kepekaan dan keterampilan sosial yang lebih tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas pertemuan yang lebih sering. Selain itu, anak-anak biasanya akan merasa lebih percaya diri dan terbuka dengan segala keterbatasan pengetahuan yang dimiliki kepada pengajar atau orangtua langsung.

3. Anak-anak akan dewasa dengan caranya sendiri
Homeschooling akan membantu anak Anda untuk menemukan tingkat kedewasaannya dan kapan ia menunjukkan kedewasaannya.

4. Anak-anak tidak perlu “stres”
Anak Anda tidak perlu takut lagi dengan kondisi ruang kelas yang ribut, gaduh, atau tekanan dari teman sebaya atau dari orang-orang sekitar. Anak anda akan berinteraksi dengan nyaman di rumah

5. Mempererat kedekatan emosional
Dengan komunikasi yang terjalin antara satu sama lain jelas akan mempengaruhi hubungan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa dua faktor paling penting dalam keberhasilan pendidikan secara keseluruhan adalah pengaruh positif rumah dan keterlibatan orangtua. Dan homeschooling menyiapkan keduanya.

6. Mengajarkan anak untuk berpikir independen 
Homescooling
 juga mengajak anak untuk berpikir secara mandiri. Guru privat yang terlibat dalam peningkatan kemampuan anak secara akademik hanya membantu mengarahkan. Anakyang akan menentukan sendiri sejauh mana ia mampu berpikir.

Jika Anda juga ingin melibatkan guru dari luar untuk proses pembelajaran di rumah, ada baiknya juga mempertimbangkan hal-hal berikut sebelum memilih guru privat:

a. Guru yang menjadi pendidik haruslah bersertifikat. Mintalah kepada sang guru untuk memperlihatkan sertifikat, baik sertifikat yang berstandar sebagai guru atau sertifikat khusus guru privat

b. Minta kepada guru agar menyampaikan pengajarannya kurang lebih 45 menit dalam satu mata pelajaran atau setarakan dengan jadwal sekolahnya.

Seperti kota besar lainnya, London memajang berbagai tulisan yang mengundang perhatian: nama jalan, slogan, grafiti, iklan, papan lembaga kantor penting, peta dan banyak lagi lainnya.

Toko buku ikut   kampanye tingkatkan minat bacaLebih dari itu, London adalah ibukota salah satu kekuatan dunia dan pusat peradaban modern.

Bayangkan bahwa masih ada penduduk kota ini yang tidak bisa membaca dan menulis dengan baik. Bagaimana mereka bertahan hidup?

Mencari kerja harus mengisi formulir, ke dokter perlu mendaftar pakai formulir, mau bepergian harus baca jadwal kereta, banyak komunikasi harus dilakukan lewat surat-menyurat atau pakai email.Hal yang kedengarannya lumrah dalam kehidupan modern ini ternyata bukan hal yang mudah bagi banyak warga London. Hampir sejuta penduduk kota ini mengalami kesulitan membaca. Suratkabar terbitan London, Evening Standard, belum lama ini mengungkap bahwa buta huruf merupakan salah satu masalah besar kota ini.

Satu dari tiga anak usia sebelas tahun tidak memiliki satupun buku bacaan di rumah. Bahkan ada anak yang mengaku satu-satunya buku bacaan di rumah adalah katalog toko barang keperluan rumahtangga, namanya Argos. Satu dari tiga anak belasan tahun hanya membaca dua buku dalam setahun. Tujuh persen dari anak-anak di London sama sekali tidak pernah membaca di luar kelas sekolah mereka. Ribuan anak usia sebelas tahun di London memiliki kemampuan membaca setingkat anak umur tujuh tahun. Satu dari empat anak lulusan sekolah dasar memiliki ketrampilan baca-tulis yang rendah. Tetapi, hampir separuh anak muda memiliki profil di situs jaringan sosial. Dua dari sepuluh anak muda memiliki blog. Saya tidak menyangka London memiliki tantangan yang demikian besar dalam soal buta huruf. Untuk negeri yang punya Oxford dan Cambridge dan universitas ternama di setiap kotanya; yang melahirkan Shakespeare, Orwell, Roal Dahl, sampai J.K. Rowling dan Harry Potter-nya, realitas buta huruf di ibukota negeri ini sangat mengherankan.

Modal awal

Tentu kemampuan baca-tulis tak hanya berguna untuk menikmati karya sastra. Melek huruf yang sesungguhnya bermakna lebih jauh dari itu. Melek huruf pada akhirnya harus memberi kemampuan orang untuk merangkai gagasan dan mengkomunikasikan pemikiran dengan orang lain secara runtut. Dengan demikian mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat yang lebih besar. Menyedihkan sekali kalau sampai anak-anak tidak menguasai modal awal yang sangat penting untuk meniti perjalanan hidup mereka selanjutnya

Pustaka sarana utama meningkatkan minat baca

Hampir semua kecamatan London memiliki perpustakaan

Saya jadi teringat keponakan saya di Magelang. Ketika dia masih di klas Nol Besar, kemampuan baca-tulisnya juga nol besar. Banyak hal yang dia tidak paham. Keindahan imajinasi kekanak-kanakannya tak banyak terungkap karena keterbatasan perbendaharaan kata yang dikuasainya. Waktu itu saya jadi khawatir. Saya tidak berharap dia bisa membaca secara sempurna, tetapi saya ingin dia punya ketrampilan cukup untuk bisa mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar nantinya.

Ketika kami datangi sekolahnya untuk menengok adakah yang salah – apakah anaknya yang malas diajari atau ada alasan lain, gurunya bilang: “Namanya juga masih di taman kanak-kanak, kami biarkan mereka banyak bermain dan kami ajari dia bersosialisasi. Mereka perlu bergaul dan belajar bermasyarakat.” Kami senang dia diajari bermasyarakat, tetapi kami juga ingin dia mulai diajari keterampilan untuk bisa bertahan hidup di masyarakat. Belajar membaca tidak harus menjadi beban; tidak harus menyita waktu bermain dan tidak harus mengurangi keriangan dan keindahan masa kanak-kanak.

Banyak bacaan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak-anak.

Sukarelawan

“Memperbaiki ketrampilan membaca di kalangan anak-anak akan membuka banyak sekali kesempatan dan mendorong minat belajar mereka sepanjang hidup,” kata Walikota London, Boris Johnson ketika meluncurkan program penggalakan minat baca pekan ini. Proyek yang diluncurkannya berusaha membantu anak-anak berusia antara tiga dan lima tahun yang berasal dari sekitar 2.000 keluarga di ibukota Inggris ini. Penyelenggara proyek ini menunjuk ‘pelopor’ dan ‘duta’ untuk membantu para keluarga yang anaknya mengalami kesulitan belajar membaca. Saya kira kalangan terpelajar di London juga kaget mendengar kenyataan buruknya tingkat buta huruf di kota mereka. Tanggapan masyarakat terhadap kampanye menggalakkan minat baca anak-anak sangat membesarkan hati. Kampanye “Get London reading” yang mengajak warga London untuk meningkatkan minat baca juga diikuti oleh beberapa toko buku. Dalam waktu sepekan ini koran Evening Standard berhasil mengumpulkan dana £125,000 atau senilai sekitar 1,8 miliar rupiah.

Pasar swalayan, bank, perusahaan kereta api dan warga biasa beramai-ramai menyisihkan sumbangan untuk melatih para sukarelawan supaya bisa membantu anak-anak yang kesulitan. Para sukarelawan ini berasal dari warga biasa seperti anda dan saya, tidak harus ahli pendidikan. Itu sebabnya perlu sedikit bekal latihan seperti layaknya mempersiapkan calon guru yang akan menghadapi murid. Di antara para sukarelawan ada pengacara, pegawai kantor, punggawa kecamatan, guru, penyanyi dan orang dewasa lain yang melek huruf. Siapa saja bisa, asal mereka tidak terlibat tindak kriminal. Para sukarelawan diminta untuk menyisihkan waktu seminggu dua kali, masing-masing satu setengah jam, selama satu tahun mendampingi anak atau keluarga yang mereka bantu. Bagi yang terlalu sibuk, mereka bisa berbagi tugas dengan satu orang lainnya atau buddy-up dengan orang lain.

Kedengarannya seperti kerja keras dan komitmen yang sulit dipenuhi. Tetapi bayangkan hasilnya: membantu anak-anak menemukan kenikmatan dalam membaca dan menulis! Bayangkan kegembiraan di wajah anak-anak itu ketika mereka menemukan sesuatu yang baru lewat bacaan mereka. Menyejukkan hati! Membuat kita sendiri tersenyum bahagia! Tentu saja peran para orangtua – kalau mereka tidak buta huruf – sangat penting. Banyak orangtua di Inggris yang selalu membacakan buku dongeng kepada anak mereka menjelang tidur.

Tetapi di antara hiruk-pikuknya London ini masih ada juga orangtua yang mereka sendiri perlu bantuan untuk mengeja kata-kata. Itu sebabnya masalah ini perlu pemecahan. Betapapun kerja keras yang dilakukan oleh berbagai lembaga dalam memerangi buta huruf, tempat terbaik bagi anak-anak untuk mencintai buku dan membaca adalah di rumah, bersama orangtua atau keluarga mereka.

 Sumber:    http://www.bbc.co.uk

A . pendahuluan

Pengaturan tempat duduk siswa dalam kelompok kecil merupakan variabel yang berhubungan dengan jumlah relasi yang terjadi dalam satu kelompok belajar.sesuai dengan data penelitian , menurut  Howells dan Becker,(1962).

  1. Anggota kelompok yang ditempatkan di tengah kemungkinan besar keluar sebagai pimpinan kelompok.

  2. Pemimpin-pemimpin kelompok mungkin muncul dari bagian yang paling sedikit pesertanya.

  3. Apabila komunikasi bebas ; a komunikasi terbanyak akan terjadi antara mereka yang duduk berhadapan.b komunikasi minimal akan terjadi antara mereka yang duduk yang bersebelahan.

v  Pola U. Pola ini merupakan tempat duduk yang disebut  all-putpose. Siswa –siswa mempunyai alas tempat membaca dan menulis,dapat melihat guru dan dapat mempergunakan alat visual dengan mudah. Pengaturan ini ideal dan memudahkan membagi LKS dengan cepat. Guru dapat mengatur bangku-bangku, kursi-kursi atau meja-meja dalam bentuk atau pola U. Siswa –siswa dibagi dalam sub kelompok-sub kelompok sebanyak 3 orang.

v  Gaya Team. Meja –meja bundar dapat dikelompokan dalam bentuk mengetari ruang kelas dan memudahkan interaksi team.  Hal ini dapat dilakukan guru untuk memantau prilaku siswa-siswa dengan memberikan berbagai tugas yang meraka harus menguasainya dan di harapkan siswa dapat mengimpormasi pada team lain. Namun demikian tempat-tempat duduk dapat juga kita atur setengah lingkaran agar tidak ada siswa yang berbaling untuk menghadap kedapan ruang kelas.

v  Meja konperensi. Suana kelas akan  teras nyaman dan sejuk tat kala tempat duduk dan meja-meja di ubah-ubah letaknya. Kita dapat melakukan bentuk susuna meja dan kursi konperensi,meja disusun agak melingkar atua persegi.fungsinya adalah untuk meminimal pembelajaran peranan guru dan memaksimalkan peran kelas. Sebuah meja yang bentuk empat persegi panjang dapat menciptakan perasaan formalitas jika guru berada di kepala meja.

v  Model lingkaran: kita mengaturkan siswa-siswa duduk secara sederhana dalam suatu lingkaran ideal untuk diskusi group penuh, hal ini dapat kita lakukan di luar kelas seperti di dalam mesjid,dibawah pohon rindang,dalam kampus dsb. Siswa-siswa duduk tanpa bangku dan meja. Aktifitas seperti ini dapat menjalin hubungan akrab dan meningkatkan interaksi langsung.

v Group on group: pola seperti ini lebih menyenangkan untuk melakukan diskusi-diskusi fishbowl dengan mengakan permainan-permainan peran,debat atau obserpasi terhadat kegiatan-kegiatan group.

v  Station-station kerja: susunan ini cocok untuk suatu lingkungan bertipe melakukan suatu prosedur atau tugas (seperti: menghitung,mengoperasikan sebah mesin,melakukan pekerjaan laboratorium) begitu selesai di demontrasikan

v  Susunan tanda pangkat ketentaraan: suatu susunan ruangan kelas tradisional (saf-saf bangku) tidak mengembangkan pembelajaran aktif. Jika beberapa siswa (30 atau lebih) dan hanya ada meja-meja bujur, kadang-kadang perlu menyusun siswa-siswa “gaya ruangan kelas”.

v  Ruang kelas tradisional: jika rangkaian staf-staf bangku atau meja dan kursi tak dapat disusun melingkar,cobalah untuk mengelompokan kursi-kursi secara berpasangan untuk memungkinkan penggunaan mitra-mitra belajar.

v  Auditorium: meskipun sebuah auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk pembelajaran aktif,tetap saja ada harapan.jika tempat-tempat duduk tidak bisa diubah,mintalah siswa duduk sedekat mungkin ke tengah, dan tegaslah dalam hal ini.

B. Ukuran kelompok peserta didik di kelas

  1. Pelaksanan pendidikan

Dalam pembangunan kelas yang besar, perlu di pertimbangkan ratio komunikasi, jumlah siswa yang padat akan berbeda dengan jumlah siswa yang sedikit dalam penerimaan informasi / sajian yang di berikan oleh guru. Para ahli pendidikan menyepakati ukuran kelas ideal adalah 24 siswa.

  1. Teori pendidikan

Teori pendidikan menyatakan, besar nya suatu kelas / pengelompokan belajar di harapkan dapat mempunyai beberapa dampak yang nyata. Banyak ahli membuat skema/hubungan komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa. Denga harapan siswa sebagai sekelompok maupun individu.

  1. Kepuasan akan mutu sumbangan fikiran cendrung menurun.

Ini sebagian di sebabkan oleh semakin sukarnya mengikuti jalannya diskusi, sementra fikiran yang ingin di sumbangkan masih di fikirkan.

  1. Perbedaan individu antara anggota semakin nampak.

Karna itu semakin sukar mencapai konsensus, dan kemungkinan besarjumlah anggota terpecah ke dalam sub kelompok.

C . ukuran kelas optimal: penemuan penellitian.

Kelas besar

Ukuran/besarnya kelas yang optimal untuk mencapai tujuan kognitif tingkat rendah pada umumnya ialah masalah selera. Nampaknya tidak merupakan variabel belajar yang penting.

Kelas kecil

Kelas kecil adalah optimal bila digunakan pengukuran patokan yang mengetengahkan tujuan afektif dan tujuan koknitif tingkat tinggi. Dalam situasi semacam itu besarnya kelompok yang optimal ialah 5, tapi boleh juga kelompok terdiri atas 7 orang apabila siswanya lebih matang dan lebih pengalaman.

D. rentang kkontrol

Rentabg kontrol guru, maka akan membuat tambahan tugas guru secara ekstra, dengan kata lain besarnya kelas melibatkan tugas tambahan yang harus di laksanakan oleh seorang guru manajer. Pola hubungan inilah yang harus menjadi patokan dalam mengkomunikasi informasi masing-masing kita sebagai guru.

E. konsekuensi dan bertambah besarbya kelompok.

Pada umumnya, penelitian membuktikan bahwa besarnya kelompok mempunyai beberapa akibat:

  1. Makin besar tututan pada guru di satu pihak, sedangkan di lain pihak makin kecil tuntutan pada siswa  untuk menggunakan keterampilannya.

  2. Makin besar toleransi kelompok terhadap pengarahan dan guru pemimpin, dan makin menonjol di bandingkan dengan anggota lainnya.

  3. Makin besar kecendrungan dari anggota yang  lebih aktif mendominasi interaksi dalam kelompok.

F. ukuran optimal untuk tutorial

Masalah yang perlu di bicarakan disini, yaitu ukuran optimal dari kelompok tutorial, kecuali hasil karya cottrel ( dalam hale, 1964), menyatakan hampir tidak ada penelitian yang bearti tentang efesiensi pengajaran tutorial. Penggunaan tutorial satu lawan satu sewajar menghasilkan pengajaran yang kurang formal karana siswa di tuntut sebagian besar bekerja sendiri.

G. membentuk strategi komunikkasi dalam kelompok

Pengambilan keputusan dan penyelesaian problema yang di laksanakan secara sistematik  telah merupakan sifat/karakteristi dari banyak program pendidikan dan latihan.

Ada 4 maacm strategi/alat bantu yang digunakan untuk penyajian.

  1. Strategi yang tidak dapat menjamin bahwa persoalan dapat dilakukan dengan baik

  2. Strategi yang benar-benar dapat menjamin pemecahan yang baik, asal informasinya tepat dan akurat

A komunikasi dengan prosa yang berutun

Cara ini adalah paling umum dan paling jelas untuk memberikan suatu informasi. Sebagian besar contoh menggunakan cara ini, tetapi kini makin nyata bahwa prosa bukan satu-satunya strategi yang optimal untuk menyajikan perintah yang komplek. Kesulitan terbesar dari pengertian suatu prosa biasanya berasal dari urutan-urutan anak kalimat, serta cara anak kalimat itu berhubungan satu dengan yang lain.

B .strategi huristik.

Strategi huristik meliputi suatu proses mencoba/penemuan. Huristik, suatu rencana yang sistematik memang mungkin akan berhasil, tetapi akan memakan waktu yang terlalu lama dan banyak biaya yang di perlukan.

Strategi huristik secara umum dapat memberi dampak sbb:

  1. Jumlah kemungkinan sangat besar

  2. Jumlah kemungkinan interaksi sangat besar dan hubungannya kompleks

  3. Strutur dasarnya tidak di ketahui.

C. strategi Algoritma

Aigoritma adalah suatu rencana yang sistematik,yang berbeda dengan huristik.jika pekerjaan dilakukan dengan cermat,teliti akan mendapat hasil yanh sukses. Strategi Algoritma, mengendapkan model payung,yaitu dengan merinci pekerjaan secara urutdan detil. Srategi ini sangat baik, karena sangat membantu kejelasan pesanyang disampaikan guru.beberapa bentuk dapat dilakukan dengan mempergunakan algoritma,meskinpun akan lebih baik jika dibatasi menjadi interaksi dan hasil yang terbatas.

Teknologi informasi berkembang sangat massif dan pesat. Kemajuan tersebut mengubah secara signifikan cara manusia menjalani kehidupannya, menjadi semakin mudah dan praktis. Manusia dapat mencari informasi apapun yang dibutuhkannya dengan memanfaatkan
internet, mengirimkansurat secara realtime melalui email.

Bertransaksi secara online, berinteraksi sosial tanpa tatap muka dengan menggunakan situs jejaring sosial. Di bidang pendidikan, kemajuan teknologi informasi juga memberikan kontribusi yang signifikan. Internet berfungsi sebagai “perpustakaan raksasa” yang menyediakan informasi dan pengetahuan di bidang apapun.

Hal itu tentu sangat membantu bagi pelajar dalam meningkatkan keilmuan dan wawasannya. Proses pembelajaran juga dapat dilakukan menggunakan internet, yang biasa disebut dengan e-learning. Pengajar menyediakan bahan pelajaran secara online untuk dipergunakan oleh pelajar.

Proses diskusi dan tanya jawab juga dapat dilakukan online melalui forum ataupun email. Pada pendidikan formal, hal tersebut mungkin sudah biasa dilakukan. Lalu, bagaimana teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam Pendidikan Non Formal (PNF)?

Hal ini yang akan dibahas lebih lanjut oleh Penulis sebagai salah seorang praktisi di bidang Pendidikan Non Formal (PNF).

Pendidikan Non Formal (PNF)

Pendidikan Non Formal (selanjutnya disingkat menjadi PNF) merupakan salah satu jalur pendidikan, selain Pendidikan Formal dan Pendidikan Informal. Hal tersebut diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). PNF merupakan jalur di luar Pendidikan Formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, seperti Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

PNF sendiri berfungsi sebagai pengganti, penambah ataupun pelengkap dari Pendidikan Formal. Sebagai subtitute Pendidikan Formal, artinya PNF dilaksanakan sebagai pengganti Pendidikan Formal bagi masyarakat yang karena alasan tertentu (seperti biaya pendidikan), sehingga tidak dapat mengikuti Pendidikan Formal. Contohnya KejarPaketAsetaraSD,PaketBsetara SMP dan Paket C setara SMA.

Pemanfaatan TI pada PNF

Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) bagi PNF setidaknya dapat dilakukan dengan 3 pendekatan yaitu Pertama, edukasi teknologi informasi bagi pendidik, tenaga kependidikan serta warga belajar program PNF. Edukasi tersebut harus dilakukan secara merata, baik bagi tenaga pendidik/ tutor/guru dan tenaga kependidikan, seperti penyelenggara program, serta warga belajar/murid.

Bagi pendidik dan tenaga kependidikan, penguasaan TI menjadi penting karena mereka adalah tulang punggung pelaksanaan program PNF. Jika ingin memanfaatkan TI pada PNF, pendidik dan tenaga kependidikan merupakan subyek pelaksana agar program tersebut dapat berjalan dengan baik.

Bagi warga belajar/murid, penguasaan TI merupakan cara untuk meningkatkan keilmuan sekaligus menjadi nilai tambah agar mereka lebih kompetitif, tidak kalah denganmuriddariPendidikanFormal. Warga belajaryangmenjadisasaranprosesedukasi adalah peserta program Kelompok Belajar Paket A setara SD, Paket B setara SMP, Paket C setara SMA, juga peserta programprogram keterampilan hidup dan lainnya.

Kedua, penyediaan infrastruktur atau sarana teknologi informasi. Akan sangat baik jika lembaga penyelenggara PNF memiliki sarana yang memadai untuk mendukung pemanfaatan teknologi informasi tersebut. Karena sarana yang dibutuhkan sebenarnya tidak terlalu sulit untuk diperoleh, sudah umum digunakan dan harga yang relatif terjangkau.

Komputer semakin murah dan mudah didapatkan, akses internet juga semakin murah dan banyak pilihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Sarana tersebut akan sangat membantu penyelenggara program PNF karena berbagai informasi dari Pemerintah yang menangani PNF (terutama dari tingkat Pusat) sebagian besar sudah disediakan online di internet.

Termasuk proses pengiriman data sudah mulai dilakukan secara online. Internetsebagai “perpustakaanraksasa” juga akan sangat membantu, misalnya jika disediakan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Sehingga masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuannya dengan membaca buku, dapat juga mencari informasi dan pengetahuan dari internet.

Ketiga, penyediaan content ataupun informasi yang memadai dan berkualitas tentang PNF. Penyediaan content tersebut dapat berupa; artikel PNF yang akan sangat berguna untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat tentang PNF, atau bagi tenaga pendidik dan kependidikan PNF dalam mendidik dan mengelola lembaga PNF; ebook pembelajaran untuk menambah wawasan dan keilmuan warga belajar; berita, pengumuman dan informasi program sehingga penyebaran informasi dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih cepat; kegiatan best practice sehingga dapat menjadi referensi dan motivasi bagi penyelenggara PNF di daerah lainnya di seantero nusantara; informasi lembaga pelaksana PNF sehingga proses sharing dan pertukaran informasi menjadi lebih mudah, termasuk data pelaksana program PNF akan lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan; penyediaan forum online sehingga dapat menjadi media komunikasi yang konstruktif untuk peningkatan kualitas tata kelola penyelenggaraan PNF.

Dari keseluruhan proses yang dilakukan, diharapkan TI dapat memberikan kontribusi positif dan signifikan untuk kemajuan Pendidikan Non Formal (PNF). Dengan pendidikan yang lebih baik, tentu masyarakat yang lebih sejahtera akan lebih cepat terwujud. Untuk Indonesia Raya !

Ketua PKBM “Generasi Amanah”

Filosofi Ikan Lele

Selain memberi dampak positif berupa keterbukaan dan mengalirnya keran kebebasan, bagi mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi (67), Reformasi 1998 juga menyisakan sisi negatif kehidupan lintas agama.

Pasalnya, keterbukaan itu juga menyebabkan arus global menderas, termasuk pemikiran agama ”bergaya” luar negeri.

”Pemikiran politik di negara agama kemudian dipaksa transfer ke negara lain yang punya sistem berbeda,” tuturnya, saat menemui pengurus Gereja Kristen Indonesia di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/3) petang. Pada kesempatan itu, ia mendengar keluhan seputar pembangunan GKI Yasmin di Bogor yang berlarut-larut.

Menurut Hasyim, bahaya pemaksaan transfer pemikiran politik itu terlihat dari adanya upaya pemikiran yang merangkak ke ranah negara. Akibatnya, hak bersama diklaim sebagai hak kelompok.

Di tengah kekacauan itu ada orang yang ”menumpang”, berselancar di tengah gelombang konflik. Mereka bukan dari agama Islam, Kristen, atau Katolik, tetapi orang yang berkepentingan terhadap konflik. ”Mereka adalah orang yang hidup dalam kekalutan. Seperti ikan lele, kalau air keruh ia gemuk, begitu air bersih, waduh bagaimana? Karena itu, mesti dikeruhkan,” katanya. (GAL)

KH HASYIM MUZADI

http://cetak.kompas.com/read/2011/04/02/05295020/filosofi.ikan.lele

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.