Tulisan ini Judul aslinya adalah :
The Mosques Programs In West Sumatra
Might Be Improved
As The Community Learning Centres
By
Prof.DR.H. Aliasar, M.Ed.
The Mosques Programs In West Sumatra
Might Be Improved
As The Community Learning Centres
By
Prof.DR.H. Aliasar, M.Ed.
Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »
JAKARTA, KOMPAS.com - Pernah mendengar kata “homeschooling”? Pola pendidikan ini semakin hari semakin banyak dipilih oleh para orangtua.Homeschooling yang berarti sekolah rumah, dikenal juga dengan istilah sekolah mandiri atau home education, home based learning. Pengertianhomeschooling secara umum adalah model pendidikan alternatif, atau proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur, dan terarah yang dilakukan orangtua, keluarga, dan lingkungan yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan dan proses pembelajarannya. Sehingga, anak dapat mengembangkan potensi sesuai dengan kemampuannya.
Nah, ketika akan menerapkan homeschooling, ada baiknya orangtua mempelajari tips di bawah ini: 1. Ketahui undang-undang tentang homeschooling di negara Anda Setiap negara memiliki undang-undang tersendiri dalam menyelenggarakan homeschooling. Sudah sepatutnya anda mempelajari undang-undang di Indonesia tentang homeschooling sebelum melaksanakan dan menerapkannya bagi anak Anda. 2. Pastikan Anda memiliki waktu untuk menemani si buah hati Sebenarnyahomeschooling tidaklah terlalu sulit. Namun, Anda harus menyiapkan waktu lebih buat buah hati Anda.
3. Ketahui pilihan Anda Ada banyak pilihan yang tersedia untuk program homeschooling. Pilihan yang bisa Anda temukan seperti membuat sendiri kurikulum anak Anda, bergabung dengan kelompok pendukung homeschooling di sekitar daerah Anda, atau biarkan anak Anda sendiri memilih mengikuti kelas-kelas umum secara online. 4. Pastikan Anda sudah siap Anda harus mempersiapkan banyak hal sebelum melakukan homeschooling. Beberapa hal yang benar-benar sulit adalah, orang-orang yang tidak paham dengan metode homeschooling. Hal ini membuat Anda harus memberikan pemahaman kepada mereka mengenai pilihan Anda untuk homeschooling.
5. Anda harus menyimpan beberapa catatan anak Anda Pahamilah bahwa homeschooling tidak sama dengan sekolah reguler. Anda harus menyimpan sendiri catatan nilai anak anda. Misalnya, absensi hadir, contoh karya anak Anda yang paling baik, nilai-nilai tes, dan juga salinan dari kurikulum yang diikuti anak Anda. Di beberapa kasus di negara lain seperti AS, ada beberapa petugas yang memasuki rumah Anda dan memeriksa kegiatan homeschooling di rumah Anda. Mereka ingin mengetahui sejauh mana pemahaman Anda mengenai homeschooling, apakah Anda mengerti tentang homeschooling.
Oleh karena itu, jika Anda ingin menerapkan metode homeschooling, harus mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan itu!
Ditulis dalam Ilmu Pendidikan | Tinggalkan sebuah Komentar »
JAKARTA, KOMPAS.com - Homeschooling alias sekolah rumah kini menjadi salah satu alternatif pilihan bagi para orangtua untuk pendidikan anaknya. Mereka tak menempatkan si anak di sekolah formal pada umumnya. Apakah mereka tidak takut kualitas pengetahuan yang diperoleh anak akan lebih rendah dibandingkan jika menyekolahkannya di sekolah formal? Tidak juga. Anak hasil homeschooling bukan berarti rendah secara kualitas.
Nah, berikut ini ada beberapa catatan soal nilai positif homeschooling yang dirangkum Kompas.comdari berbagai sumber. Siapa tahu, bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum memutuskan “menyekolahkan” anak Anda di rumah.
1. Perkembangan anak lebih pesat
Jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah formal pada umumnya, homeschooling sesungguhnya merupakan program yang dapat membantu dalam perkembangan anak. Setiap anak memiliki tingkat penerimaan pengetahuan yang berbeda-beda. Namun, sekolah formal lebih cenderung untuk menyamakan semua kemampuan anak. Maka, tak jarang anak yang dengan daya tangkap lebih rendah harus berusaha keras dalam untuk mengejar ketinggalan dibanding teman-temannya yang lain. Nah, dengan homeschooling ini sang anak dapat belajar langsung dengan guru privat dan sesuatu yang menjadi ketidaktahuan anak akan dengan mudah diidentifikasi oleh guru karena berkomunikasi langsung.
2. Memiliki karakter yang lebih kuat
Anak dengan didikan langsung oleh orangtua akan memiliki kepekaan dan keterampilan sosial yang lebih tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas pertemuan yang lebih sering. Selain itu, anak-anak biasanya akan merasa lebih percaya diri dan terbuka dengan segala keterbatasan pengetahuan yang dimiliki kepada pengajar atau orangtua langsung.
3. Anak-anak akan dewasa dengan caranya sendiri
Homeschooling akan membantu anak Anda untuk menemukan tingkat kedewasaannya dan kapan ia menunjukkan kedewasaannya.
4. Anak-anak tidak perlu “stres”
Anak Anda tidak perlu takut lagi dengan kondisi ruang kelas yang ribut, gaduh, atau tekanan dari teman sebaya atau dari orang-orang sekitar. Anak anda akan berinteraksi dengan nyaman di rumah
5. Mempererat kedekatan emosional
Dengan komunikasi yang terjalin antara satu sama lain jelas akan mempengaruhi hubungan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa dua faktor paling penting dalam keberhasilan pendidikan secara keseluruhan adalah pengaruh positif rumah dan keterlibatan orangtua. Dan homeschooling menyiapkan keduanya.
6. Mengajarkan anak untuk berpikir independen
Homescooling juga mengajak anak untuk berpikir secara mandiri. Guru privat yang terlibat dalam peningkatan kemampuan anak secara akademik hanya membantu mengarahkan. Anakyang akan menentukan sendiri sejauh mana ia mampu berpikir.
Jika Anda juga ingin melibatkan guru dari luar untuk proses pembelajaran di rumah, ada baiknya juga mempertimbangkan hal-hal berikut sebelum memilih guru privat:
a. Guru yang menjadi pendidik haruslah bersertifikat. Mintalah kepada sang guru untuk memperlihatkan sertifikat, baik sertifikat yang berstandar sebagai guru atau sertifikat khusus guru privat
b. Minta kepada guru agar menyampaikan pengajarannya kurang lebih 45 menit dalam satu mata pelajaran atau setarakan dengan jadwal sekolahnya.
Ditulis dalam Ilmu Pendidikan | 1 Komentar »
Seperti kota besar lainnya, London memajang berbagai tulisan yang mengundang perhatian: nama jalan, slogan, grafiti, iklan, papan lembaga kantor penting, peta dan banyak lagi lainnya.
Lebih dari itu, London adalah ibukota salah satu kekuatan dunia dan pusat peradaban modern.
Bayangkan bahwa masih ada penduduk kota ini yang tidak bisa membaca dan menulis dengan baik. Bagaimana mereka bertahan hidup?
Mencari kerja harus mengisi formulir, ke dokter perlu mendaftar pakai formulir, mau bepergian harus baca jadwal kereta, banyak komunikasi harus dilakukan lewat surat-menyurat atau pakai email.Hal yang kedengarannya lumrah dalam kehidupan modern ini ternyata bukan hal yang mudah bagi banyak warga London. Hampir sejuta penduduk kota ini mengalami kesulitan membaca. Suratkabar terbitan London, Evening Standard, belum lama ini mengungkap bahwa buta huruf merupakan salah satu masalah besar kota ini.
Satu dari tiga anak usia sebelas tahun tidak memiliki satupun buku bacaan di rumah. Bahkan ada anak yang mengaku satu-satunya buku bacaan di rumah adalah katalog toko barang keperluan rumahtangga, namanya Argos. Satu dari tiga anak belasan tahun hanya membaca dua buku dalam setahun. Tujuh persen dari anak-anak di London sama sekali tidak pernah membaca di luar kelas sekolah mereka. Ribuan anak usia sebelas tahun di London memiliki kemampuan membaca setingkat anak umur tujuh tahun. Satu dari empat anak lulusan sekolah dasar memiliki ketrampilan baca-tulis yang rendah. Tetapi, hampir separuh anak muda memiliki profil di situs jaringan sosial. Dua dari sepuluh anak muda memiliki blog. Saya tidak menyangka London memiliki tantangan yang demikian besar dalam soal buta huruf. Untuk negeri yang punya Oxford dan Cambridge dan universitas ternama di setiap kotanya; yang melahirkan Shakespeare, Orwell, Roal Dahl, sampai J.K. Rowling dan Harry Potter-nya, realitas buta huruf di ibukota negeri ini sangat mengherankan.
Modal awal
Tentu kemampuan baca-tulis tak hanya berguna untuk menikmati karya sastra. Melek huruf yang sesungguhnya bermakna lebih jauh dari itu. Melek huruf pada akhirnya harus memberi kemampuan orang untuk merangkai gagasan dan mengkomunikasikan pemikiran dengan orang lain secara runtut. Dengan demikian mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat yang lebih besar. Menyedihkan sekali kalau sampai anak-anak tidak menguasai modal awal yang sangat penting untuk meniti perjalanan hidup mereka selanjutnya
Hampir semua kecamatan London memiliki perpustakaan
Saya jadi teringat keponakan saya di Magelang. Ketika dia masih di klas Nol Besar, kemampuan baca-tulisnya juga nol besar. Banyak hal yang dia tidak paham. Keindahan imajinasi kekanak-kanakannya tak banyak terungkap karena keterbatasan perbendaharaan kata yang dikuasainya. Waktu itu saya jadi khawatir. Saya tidak berharap dia bisa membaca secara sempurna, tetapi saya ingin dia punya ketrampilan cukup untuk bisa mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar nantinya.
Ketika kami datangi sekolahnya untuk menengok adakah yang salah – apakah anaknya yang malas diajari atau ada alasan lain, gurunya bilang: “Namanya juga masih di taman kanak-kanak, kami biarkan mereka banyak bermain dan kami ajari dia bersosialisasi. Mereka perlu bergaul dan belajar bermasyarakat.” Kami senang dia diajari bermasyarakat, tetapi kami juga ingin dia mulai diajari keterampilan untuk bisa bertahan hidup di masyarakat. Belajar membaca tidak harus menjadi beban; tidak harus menyita waktu bermain dan tidak harus mengurangi keriangan dan keindahan masa kanak-kanak.
Banyak bacaan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak-anak.
Sukarelawan
“Memperbaiki ketrampilan membaca di kalangan anak-anak akan membuka banyak sekali kesempatan dan mendorong minat belajar mereka sepanjang hidup,” kata Walikota London, Boris Johnson ketika meluncurkan program penggalakan minat baca pekan ini. Proyek yang diluncurkannya berusaha membantu anak-anak berusia antara tiga dan lima tahun yang berasal dari sekitar 2.000 keluarga di ibukota Inggris ini. Penyelenggara proyek ini menunjuk ‘pelopor’ dan ‘duta’ untuk membantu para keluarga yang anaknya mengalami kesulitan belajar membaca. Saya kira kalangan terpelajar di London juga kaget mendengar kenyataan buruknya tingkat buta huruf di kota mereka. Tanggapan masyarakat terhadap kampanye menggalakkan minat baca anak-anak sangat membesarkan hati. Kampanye “Get London reading” yang mengajak warga London untuk meningkatkan minat baca juga diikuti oleh beberapa toko buku. Dalam waktu sepekan ini koran Evening Standard berhasil mengumpulkan dana £125,000 atau senilai sekitar 1,8 miliar rupiah.
Pasar swalayan, bank, perusahaan kereta api dan warga biasa beramai-ramai menyisihkan sumbangan untuk melatih para sukarelawan supaya bisa membantu anak-anak yang kesulitan. Para sukarelawan ini berasal dari warga biasa seperti anda dan saya, tidak harus ahli pendidikan. Itu sebabnya perlu sedikit bekal latihan seperti layaknya mempersiapkan calon guru yang akan menghadapi murid. Di antara para sukarelawan ada pengacara, pegawai kantor, punggawa kecamatan, guru, penyanyi dan orang dewasa lain yang melek huruf. Siapa saja bisa, asal mereka tidak terlibat tindak kriminal. Para sukarelawan diminta untuk menyisihkan waktu seminggu dua kali, masing-masing satu setengah jam, selama satu tahun mendampingi anak atau keluarga yang mereka bantu. Bagi yang terlalu sibuk, mereka bisa berbagi tugas dengan satu orang lainnya atau buddy-up dengan orang lain.
Kedengarannya seperti kerja keras dan komitmen yang sulit dipenuhi. Tetapi bayangkan hasilnya: membantu anak-anak menemukan kenikmatan dalam membaca dan menulis! Bayangkan kegembiraan di wajah anak-anak itu ketika mereka menemukan sesuatu yang baru lewat bacaan mereka. Menyejukkan hati! Membuat kita sendiri tersenyum bahagia! Tentu saja peran para orangtua – kalau mereka tidak buta huruf – sangat penting. Banyak orangtua di Inggris yang selalu membacakan buku dongeng kepada anak mereka menjelang tidur.
Tetapi di antara hiruk-pikuknya London ini masih ada juga orangtua yang mereka sendiri perlu bantuan untuk mengeja kata-kata. Itu sebabnya masalah ini perlu pemecahan. Betapapun kerja keras yang dilakukan oleh berbagai lembaga dalam memerangi buta huruf, tempat terbaik bagi anak-anak untuk mencintai buku dan membaca adalah di rumah, bersama orangtua atau keluarga mereka.
Sumber: http://www.bbc.co.uk
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda Pendidikan Luar Sekolah | Tinggalkan sebuah Komentar »
Ditulis dalam Ilmu Pendidikan | Bertanda Desai Pembelajaran | Tinggalkan sebuah Komentar »
Teknologi informasi berkembang sangat massif dan pesat. Kemajuan tersebut mengubah secara signifikan cara manusia menjalani kehidupannya, menjadi semakin mudah dan praktis. Manusia dapat mencari informasi apapun yang dibutuhkannya dengan memanfaatkan
internet, mengirimkansurat secara realtime melalui email.
Bertransaksi secara online, berinteraksi sosial tanpa tatap muka dengan menggunakan situs jejaring sosial. Di bidang pendidikan, kemajuan teknologi informasi juga memberikan kontribusi yang signifikan. Internet berfungsi sebagai “perpustakaan raksasa” yang menyediakan informasi dan pengetahuan di bidang apapun.
Hal itu tentu sangat membantu bagi pelajar dalam meningkatkan keilmuan dan wawasannya. Proses pembelajaran juga dapat dilakukan menggunakan internet, yang biasa disebut dengan e-learning. Pengajar menyediakan bahan pelajaran secara online untuk dipergunakan oleh pelajar.
Proses diskusi dan tanya jawab juga dapat dilakukan online melalui forum ataupun email. Pada pendidikan formal, hal tersebut mungkin sudah biasa dilakukan. Lalu, bagaimana teknologi informasi dapat dimanfaatkan dalam Pendidikan Non Formal (PNF)?
Hal ini yang akan dibahas lebih lanjut oleh Penulis sebagai salah seorang praktisi di bidang Pendidikan Non Formal (PNF).
Pendidikan Non Formal (PNF)
Pendidikan Non Formal (selanjutnya disingkat menjadi PNF) merupakan salah satu jalur pendidikan, selain Pendidikan Formal dan Pendidikan Informal. Hal tersebut diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). PNF merupakan jalur di luar Pendidikan Formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, seperti Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
PNF sendiri berfungsi sebagai pengganti, penambah ataupun pelengkap dari Pendidikan Formal. Sebagai subtitute Pendidikan Formal, artinya PNF dilaksanakan sebagai pengganti Pendidikan Formal bagi masyarakat yang karena alasan tertentu (seperti biaya pendidikan), sehingga tidak dapat mengikuti Pendidikan Formal. Contohnya KejarPaketAsetaraSD,PaketBsetara SMP dan Paket C setara SMA.
Pemanfaatan TI pada PNF
Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) bagi PNF setidaknya dapat dilakukan dengan 3 pendekatan yaitu Pertama, edukasi teknologi informasi bagi pendidik, tenaga kependidikan serta warga belajar program PNF. Edukasi tersebut harus dilakukan secara merata, baik bagi tenaga pendidik/ tutor/guru dan tenaga kependidikan, seperti penyelenggara program, serta warga belajar/murid.
Bagi pendidik dan tenaga kependidikan, penguasaan TI menjadi penting karena mereka adalah tulang punggung pelaksanaan program PNF. Jika ingin memanfaatkan TI pada PNF, pendidik dan tenaga kependidikan merupakan subyek pelaksana agar program tersebut dapat berjalan dengan baik.
Bagi warga belajar/murid, penguasaan TI merupakan cara untuk meningkatkan keilmuan sekaligus menjadi nilai tambah agar mereka lebih kompetitif, tidak kalah denganmuriddariPendidikanFormal. Warga belajaryangmenjadisasaranprosesedukasi adalah peserta program Kelompok Belajar Paket A setara SD, Paket B setara SMP, Paket C setara SMA, juga peserta programprogram keterampilan hidup dan lainnya.
Kedua, penyediaan infrastruktur atau sarana teknologi informasi. Akan sangat baik jika lembaga penyelenggara PNF memiliki sarana yang memadai untuk mendukung pemanfaatan teknologi informasi tersebut. Karena sarana yang dibutuhkan sebenarnya tidak terlalu sulit untuk diperoleh, sudah umum digunakan dan harga yang relatif terjangkau.
Komputer semakin murah dan mudah didapatkan, akses internet juga semakin murah dan banyak pilihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Sarana tersebut akan sangat membantu penyelenggara program PNF karena berbagai informasi dari Pemerintah yang menangani PNF (terutama dari tingkat Pusat) sebagian besar sudah disediakan online di internet.
Termasuk proses pengiriman data sudah mulai dilakukan secara online. Internetsebagai “perpustakaanraksasa” juga akan sangat membantu, misalnya jika disediakan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Sehingga masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuannya dengan membaca buku, dapat juga mencari informasi dan pengetahuan dari internet.
Ketiga, penyediaan content ataupun informasi yang memadai dan berkualitas tentang PNF. Penyediaan content tersebut dapat berupa; artikel PNF yang akan sangat berguna untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat tentang PNF, atau bagi tenaga pendidik dan kependidikan PNF dalam mendidik dan mengelola lembaga PNF; ebook pembelajaran untuk menambah wawasan dan keilmuan warga belajar; berita, pengumuman dan informasi program sehingga penyebaran informasi dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih cepat; kegiatan best practice sehingga dapat menjadi referensi dan motivasi bagi penyelenggara PNF di daerah lainnya di seantero nusantara; informasi lembaga pelaksana PNF sehingga proses sharing dan pertukaran informasi menjadi lebih mudah, termasuk data pelaksana program PNF akan lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan; penyediaan forum online sehingga dapat menjadi media komunikasi yang konstruktif untuk peningkatan kualitas tata kelola penyelenggaraan PNF.
Dari keseluruhan proses yang dilakukan, diharapkan TI dapat memberikan kontribusi positif dan signifikan untuk kemajuan Pendidikan Non Formal (PNF). Dengan pendidikan yang lebih baik, tentu masyarakat yang lebih sejahtera akan lebih cepat terwujud. Untuk Indonesia Raya !
Ketua PKBM “Generasi Amanah”
Ditulis dalam Komunikasi dan Informasi | Bertanda Teknologi Informasi | Tinggalkan sebuah Komentar »
Selain memberi dampak positif berupa keterbukaan dan mengalirnya keran kebebasan, bagi mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi (67), Reformasi 1998 juga menyisakan sisi negatif kehidupan lintas agama.
Pasalnya, keterbukaan itu juga menyebabkan arus global menderas, termasuk pemikiran agama ”bergaya” luar negeri.
”Pemikiran politik di negara agama kemudian dipaksa transfer ke negara lain yang punya sistem berbeda,” tuturnya, saat menemui pengurus Gereja Kristen Indonesia di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/3) petang. Pada kesempatan itu, ia mendengar keluhan seputar pembangunan GKI Yasmin di Bogor yang berlarut-larut.
Menurut Hasyim, bahaya pemaksaan transfer pemikiran politik itu terlihat dari adanya upaya pemikiran yang merangkak ke ranah negara. Akibatnya, hak bersama diklaim sebagai hak kelompok.
Di tengah kekacauan itu ada orang yang ”menumpang”, berselancar di tengah gelombang konflik. Mereka bukan dari agama Islam, Kristen, atau Katolik, tetapi orang yang berkepentingan terhadap konflik. ”Mereka adalah orang yang hidup dalam kekalutan. Seperti ikan lele, kalau air keruh ia gemuk, begitu air bersih, waduh bagaimana? Karena itu, mesti dikeruhkan,” katanya. (GAL)
KH HASYIM MUZADI
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/02/05295020/filosofi.ikan.lele
Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »